Cerpen

Wish


 ‘Vina’ adalah nama panggilanku dari kecil. Aku terlahir dari keluarga kaya. Ayahku adalah pengusaha yang sukses. Aku duduk di kelas III, di SMA Permata Bangsa, sebuah sekolah favorit dan cukup disegani didaerahku. Kebanyakan yang bisa bersekolah disini anak dari orang tua yang berpenghasilan diatas rata-rata. Meskipun begitu hal ini tak menghalangiku untuk mendapatkan teman, siapapun itu. Siva, Sica, Clara dan Tiffanny adalah sahabatku sejak dikelas satu.

Kehidupan itu tidak selalu berjalan lurus tetapi seperti roda yang terus berputar. Siapa sangka dipertengahan kelas III ketika akan menghadapi Ujian Nasional sebuah musibah menimpa keluargaku. Sepulang sekolah aku melihat isi  serta barang-barang berharga dalam rumah disita untuk membayar kerugian perusahaan yang harus ditanggung ayah. Karena hal tersebut Ibu meninggalkan ayah, dan sejak hari itu aku tinggal dirumah paman.

“Teman-teman ada rencana tidak sepulang sekolah nanti ?”tanya Siva.

“Shooping, ada sesuatu yang ingin kubeli. Bagaimana?” jawab Tiffanny.

“Ide bagus tuh, aku ikut :D” sambung Jesica.

”Ok  !” tanggap Clara.

“Bagaimana denganmu Vin?” tanya Tiffanny.

“Dari tadi terlihat muram apa ada masalah?” tanya Sica.

“Hei !!!” bentak Clara mengagetkanku.

“Apa ada masalah?”ulang Siva.

“Tentu saja tidak, aku terserah kalian saja ^_^”.

☼☼☼

“Ternyata teman-temanmu belum mengetahui keadaanmu saat ini.” Ucap paman kepadaku saat makan malam, tentu saja aku tidak menanggapinya.

”Mulai sekarang kamu harus belajar untuk berhemat kalau bisa menabung jika kamu benar-benar ingin melanjutkan keperguruan tinggi.” Lanjutnya.

“Apa maksud paman ?” tanyaku kaget.

“Apa kamu masih belum mengerti? Ayahmu tidak lagi seperti dulu, dan aku juga mempunyai anak dan istri yang harusku tanggung tidak mungkin aku menghidupimu terus-menerus.” Jawabnya.

“Aku akan meneruskan sekolahku dan mencapai cita-citaku.” Ucapku lirih.

“Apa yang bisa kau lakukan?”.

“Aku akan masuk perguruan tinggi apapun caranya.” Ucapku sambil beranjak kekamar tidur.

Akhirnya Ujian Nasional telah selesai, aku dan sahabat-sahabatkupun dinyatakan LULUS.  Seperti biasanya aku naik keloteng sekolah untuk memandangi langit sore sambil membuat beberapa pesawat dari  tumpukan kertas bekas yang ada disana dan memikirkan apa yang harus ku lakukan. ‘Apakah cita-citaku tidak akan bisa terwujud?’. ’Apa tidak ada harapan lagi untukku bisa masuk perguruan tinggi?’. Segumpal pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari pikiranku. Aku berharap dapat melewati semua ini dan bisa kembali seperti dulu, Ayah…Ibu…- -“ . Setelah kelulusan aku telah memutuskan untuk pergi dari rumah paman, jauh meninggalkan kota. Aku tidak ingin menjadi beban buat keluarga mereka. Untuk pertamakali aku pergi tanpa tujuan yang jelas dan untuk pertamakalinya juga aku naik kendaraan umum. Mataku sayu sehabis menangis. Aku benar-benar kangen ayah dan ibuku, aku ingin bersama-sama mereka dan juga sahabat-sahabatku. ‘Aku tidak boleh begini, tidak boleh menangis lagi, aku bukan orang yang lemah dan tidak membutuhkan belas kasihan siapapun’. Pikirku.

“Ma’af nona kamu turun diterminal mana?” tanya orang disebelahku.

“Bukan Urusanmu !” jawabku ketus.

“Tapi bus ini menuju desa manul terminal terakhir yang dituju, apakah anda turun disana? “ tanyanya lagi.

“YA.” Jawabku singkat sambil terus menatap jendela bus.

“Syukurlah, apa ada keluarga yang ingin anda kunjungi apa tidak ada yang menemani? ..”ucapnya kemudian.

“Mengapa?” tanyaku heran.

“Gadis cantik sepertimu malam-malam pergi sendirian apa tidak apa-apa.”

 “APA ?!”

“Ah~ tidak apa-apa, maaf”. ucapnya

Setelah perjalanan yang cukup jauh akhirnya aku tiba disebuah pedesaan sungguh tempat yang asing bagiku. Terlihat sepi hanya beberapa orang lalu lalang yang akan kembali pulang kerumahnya untuk beristirahat. Kulihat jam ditanganku menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku beranjak dari bis ku perhatikan setiap langkah dari orang yang berlalu lalang, aku benar-benar tidak tahu harus kemana. Kusandarkan badanku pada tiang terminal. ‘Lelah sekali pikirku’. Kulihat bintang dilangit dengan tatapan kosong.

“Nona apakah kamu menunggu jemputan?” tanya orang itu lagi. Ku gelengkan kepalaku.

“Dimana alamat keluarga yang ingin nona kunjungi, siapa tahu saya bisa mengantar nona.” Ucapnya lagi  berbaik hati.

“Aku tidak punya.” Jawabku melempar kekesalanku padanya.

“Galak sekali, Jika kau tidak mempunyai tujuan mengapa kemari ??” tanyanya kemudian.

(Diam sejenak)“Mungkin karena aku menyukaimu.” Jawabku asal.

“Apa Ibu tidak salah dengar Ari?” dari arah berlawanan muncul seorang wanita yang umurnya sudah berbaya.

“I..I.Ibu?!” jawab Ari kelabakan. ‘Jadi Ari namanya anak kampung ini pikirku dalam hati sambil melirik kearahnya.

“Hmm.. Ibu perkenalkan nama saya Vina” kataku memperkenalkan diri sambil tersenyum kaku.

“Cantik sekali,, kenapa kau tidak bilang pada Ibu kalau sudah mempunyai pacar secantik ini?”.

“Kalau begitu permisi dulu”. Pamitku.

“Kau mau kemana?” tanya Ibunya.

“Saya akan kembali kekota, kira-kira bis untuk kembali kekota jam berapa akan berangkat?” tanyaku.

“Apa kau tidak tahu jam segini bis sudah berhenti beroperasi ini yang terakhir.” Jelas Ari.

“APA ?!” ucapku kaget.

”Santai saja tidak usah teriak-teriak begitu, Bukankah dari tadi sudah kukatakan bahwa ini desa tujuan terakhir, besok pagi akan beroperasi kembali”.

“Kalau begitu menginap dirumah Ibu saja, tapi maaf rumahnya tidak besar.” Tawar Ibu Ari.

“Tapi Ibu..”ucap Ari.

“Apa tidak apa-apa jika aku menginap?” tanyaku sungkan.

“Tentu saja” jawab Ibu Ari.

☼☼☼

Pagi harinya aku melihat Ari memberi makan sapi-sapinya dan Aku tertarik dengan itu.

“Bukannya kau ingin kembali kekota kenapa masih disini?” tanya Ari.

“Kenapa dingin sekali,Apa tidak boleh?” jawabku.

“Itu karena kau membohongi Ibuku dengan berkata kau menyukaiku, jika butuh tumpangan mengapa tidak katakan saja dari awal.”

“Aku tidak bohong.” Jawabku kemudian.

“Apa?! Tidak mungkin gadis secantik kau menyukai orang sepertiku.”

“Mengapa tidak?” lanjutku.

“Sudah tidak usah berbohong lagi, aku tau sepanjang perjalanan kau menangis kemarin apa kau kabur dari rumah ?”

“TIDAK PERLU MENGATAKAN ITU, JIKA KAU INGIN AKU CEPAT PERGI DARI SINI AKAN KULAKUKAN SEKARANG JUGA!” kataku dengan nada kesal.

“Mulai Lagi,seharusnya jika memang lagi bersedih kau menangis bukan marah-marah.” (- – “)

“AKU TIDAK SEDIH!” ucapku sambil meninggalkannya. Aku berjalan keterminal dekat rumah Ari setelah pamitan dengan Ibunya tentunya. Ketika akan duduk sepatu yang kukenakan

☼☼☼

Tiga bulan kemudian setelah pergi dari rumah Ari, aku mendapatkan kontrakan dan tinggal disana. Aku mengikuti tes beasiswa untuk masuk keperguruan tinggi yang ku impikan dan aku berhasil dengan jerih payahku. Akhirnya harapanku untuk melanjutkan keperguruan tinggi dengan usahaku sendiri telah ku capai. Tidak disagka aku bertemu dengan keempat sahabatku.

“Vina, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Siva.

“Aku diterima disini”. jawabku

“Vina kita harus bicara sebentar diluar.” Ucap Jesica.

“Tidak perlu sica langsung katakan saja.” Sela Clara.

“Tidak Clara.” Sambung Tiffanny.

“Kami sudah tahu keadaanmu yang sebenarnya. Ayahmu mengalami masa yang sulit dan rumahmu serta barang-barang didalamnya disita untuk menanggung semuanya dan Ibumu lari meninggalkan Ayahmu,bukan begitu Vina?” Ucap Clara sinis. Perkataan Clara membuat dadaku sesek.

“Mengapa kau tidak memberitahu kami, dan malah menutupinya?” Tanya Jessica dengan nada prihatin

“Tidak perlu, dia tidak memerlukan belas kasihmu” timpal Clara. tidak terasa airmataku jatuh mengalir mengikuti lekukan pipiku, mendengar desakan para sahabatku.

 “Dari awal kau tidak jujur. Kau telah membohongi kami Vina.” Lanjut Tiffanny.

“Ya semua itu benar. Apa kalian Puas mendengarnya?”

“Sudah kere masih juga sombong. Kau sudah bukan lagi sahabat kami Vina”.Ucap  Clara.

“Aku tahu .. Kukira kalian benar-benar shabatku tapi ternyata kalian hanya mementingkan status sosial.” Kataku lirih sambil berlalu.

“Tidak begitu Vina..tunggu..!” teriak Sica.

“Biarkan dia atau kau akan bernasib sama Sica!” ucap Clara.

Aku belari menuju bangku taman belakang. Pemandangan disana indah kupikir aku bisa menenangkan pikiranku, tetapi kejadian barusan terus terbesit di kepalaku. “Hai nona galak, kita bertemu lagi” ucap seseorang dari arah belakang ternyata Ari, si anak desa yang tidak sengaja kutemukan diperjalananku menuju sebuah tempat terpencil beberapa bulan lalu.

“Sedang apa kau disini? Jika ingin menertawakanku seperti yang lainnya silahkan saja.”

“Tentu saja sama sepertimu,aku kesini tidak untuk tertawa, biasanya jika gadis menangis akan terlihat cantik tapi kau aneh malah terlihat sangat jelek.”

“Kau…”aku tidak melanjutkan kata yang ingin kuucapkan. “Aku sedang malas berdebat” lanjutku sambil menundukkan kepalaku.

“Kau mau ku pinjamkan bahu untukmu menangis?”tanyanya.

“Apa kau tidak dengar, aku tidak ingin berdebat denganmu!” ucapku mulai kesal.

“Bisa-bisanya kau menangis sambil marah-marah seperti itu, dasar aneh. Tapi aku suka melihatmu kembali seperti yang ku tahu sebelumnya.”

“Tentu bisa, wajahmu itu akan selalu membuat orang yang melihatnya kesal” ucapku.

“Hahaha . .” Tawa Ari sambil mengacak-acak rambutku.

”Apa kita bisa berteman nona galak” tanyanya kemudian.

“Akan kupikirkan nanti” candaku.

☼☼☼

Setelah kejadian itu ada saja hal-hal buruk yang menimpaku. Bahkan banyak sekali perkataan-perkataan serta cerita yang menjelek-jelekkan diriku. Aku sudah lelah mendengar ini semua aku ingin mengakhirinya.  Aku memang kehilangan empat sahabat baikku. Tapi aku menemukan seorang sahabat terbaik sekaligus malaikat penjaga buatku. Hubunganku dengan Ari semakin lama semakin baik. Dia selalu menemaniku disaat ke membutuhkannya dan selalu memberiku semangat. Ternyata Ari adalah anak walikota dan Ibu yang waktu itu adalah Ibu angkatnya. Aku telah salah paham terhadapnya meskipun begitu sifatnya tetap saja kampungan pikirku, hahaha. Tak lama setelah aku masuk ke perguruan tinggi, usaha ayah mulai membaik sedikit-demi sedikit. Ayah berkata bahwa telah mempunyai rumah baru untukku dan Ibuku.. Aku kembali tinggal bersama ayahku dirumah baru kami. Rumah baru kami tidak kalah mewah dengan rumah sebelumnya tetapi itu tidak penting bagiku karena yang terpenting bagiku adalah aku bisa berkumpul dengan keluargaku lagi.  Mengetahui usaha ayah yang mulai membaik paman meminta maaf kepadaku dan juga ayah.

“Ternyata kau gadis yang hebat Vina, bisa membuktikan ucapanmu dengan tekadmu yang kuat  itu, aku bangga padamu. Maafkan aku.” Begitu yang diucapkannya kepadaku.

Meski belum sepenuhnya membaik tetapi setidaknya aku sudah kembali tinggal bersama ayah. Aku berharap keluargaku bisa berkumpul lagi seperti sebelumnya. Aku berharap Ibu akan kembali kepada ayah kembali ke Indonesia dan tinggal bersama kami lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s